About

New Post

Rss

Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 Februari 2014
Undangan Diskusi Bersama Mas Heru Wahyu Kismoyo

Undangan Diskusi Bersama Mas Heru Wahyu Kismoyo







 Diskusi rutin " Sekolah keistimewaan Yogyakarta | HIMAYO - Himpunan Mahasiswa Yogyakarta | Selasa, 11 Februari 2014 Jam 18.00 Wib - Selesai | bersama Mas Heru Wahyu Kismoyo | di JL. Namburan lor 1 / Timur Gapura Galeri | Kumpul di MP UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Selasa, 11 Februari
Kamis, 06 Februari 2014
HIMAYO BAND GANTI NAMA

HIMAYO BAND GANTI NAMA



s'vegaz



5 Februari 2014 merupakan hari bersejarah bagi Himayo band . Bertempat dimatto 6 personil Himayo band mendeklarasikan nama barunya menjadi S’VEGAZ.Menurut Alvin gitaris S’VEGAZ pergantian nama tersebut dikarenakan Himayo adalah nama organisas.


“Alasan kami berganti nama  karena Himayo sendiri adalah nama organisasi, apabila main kita jelek kan bisa mencemarkan nama himayo sendiri,hehe”katanya sambil tertawa.


Alvin menambahkan pergantian nama tersebut juga dikarenakan nasehat dari Ki Munjar Sansekerta
“Dan pergantian ini juga nasehat dari penasehat himayo Ki Munjar Sansekerta”tambahnya.

 


Alasan dipilihnya S’Vegaz dia mengatakan bahwa S’Vegaz namanya simple dan mudah diingat.Dalam deklarasi tersebut personil S’Vegaz juga menyatakan keseriusaannya dalam bidang bermusik


Klik Fb : S'Vegaz

 
Senin, 03 Februari 2014
no image

Sejarah Kraton Yogyakarta



Sejarah Kraton Yogyakarta


Penulis: Annas Hidayat
Berbagai sumber
  

KRATON Yogyakarta dibangun tahun 1756 Masehi atau tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan panjang antara 1747-1755 yang berakhir dengan Perjanjian Gianti.


Sebelum menempati Kraton Yogyakarta yang ada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono I atau
Sri Sultan Hemengku Buwono Senopati Ingalogo Ngabdulrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah tinggal di Ambar Ketawang Gamping, Sleman. Lima kilometer di sebelah barat Kraton Yogyakarta.

Dari Ambar Ketawang Ngarso Dalem menentukan ibukota Kerajaan Mataram di Desa Pacetokan. Sebuah wilayah yang diapit dua sungai yaitu sungai Winongo dan Code. Lokasi ini berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan, Krapyak, Kraton, dan Gunung Merapi.


Bangunan Kraton Yogyakarta sedikitnya terdiri tujuh bangsal. Masing-masing bangsal dibatasi dengan regol atau pintu masuk. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo, Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan.

Kraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang kurang lebih 100x100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Kraton Yogyakarta berdiri di atas tanah 1,5 km persegi.

Bangunan inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah Timur Laut kraton. Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat Daya. Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah Barat. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah Selatan. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur.

Dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.

Penjaga benteng diserahkan pada prajurit kraton di antaranya, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Bugis. Prajurit Jogokaryo mempunyai bendera Papasan dan tinggal di Kampung Jogokaryan. Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan Bendera Kesatuan Purnomosidi dan tinggal di Kampung Mantrijeron. Prajurit Bugis yang berbendera Kesatuan Wulandari tinggal di Kampung Bugisan.


Masa pemerintahan Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono) memerintah tahun 1755-1792. Sri Sultan Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812. Sri Sultan Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin tahun 1812-1814.

Sri Sultan Hamengku Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah tahun 1814-1823. Sri Sultan Hamengku Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah tahun 1823-1855. Sri Sultan Hamengku Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877. Sri Sultan Hamengku Buwono VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921.


Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM Dorojatun) memimpin tahun 1940-1988. Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno Darpito) memimpin tahun 1989 - sekarang.



MENGURANGI PENCEMARAN POLUSI UDARA DENGAN BUDAYA BERSEPEDA(JLFR)

MENGURANGI PENCEMARAN POLUSI UDARA DENGAN BUDAYA BERSEPEDA(JLFR)



MENGURANGI PENCEMARAN POLUSI UDARA DENGAN BUDAYA BERSEPEDA
(Komunitas Jogja : JLFR-Jogja Last Friday Ride-)


 Penulis : Yudi Antono




 


Kendaraan bermotor telah lama menjadi salah satu sumber pencemar udara dibanyak kota besar dunia. Gas-gas beracun dari jutaan knalpot setiap harinya menimbulkan masalah serius di banyak kota-kota besar. Tak terkecuali di Yogyakarta, yang jutaan kendaraannya berbahan bakar bensin sehingga menjadi sumber pencemar udara terbesar di beberapa kota melebihi industri dan rumah tangga.Gas-gas pencemar udara seperti karbon monoksida (CO), plumbum (Pb), hidrokarbon (HC), oksida nitrogen (NOx) tanpa kita sadari kita hirup setiap harinya.Gubernur DI.Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, tingkat pencemaran udara di wilayah Jateng dan Yogyakarta makin tinggi, kalau tidak boleh dikatakan sudah memasuki nilai ambang batas, sehingga semua pihak diminta waspada dan berhati-hati. Sehubungaan dengan itu, perlu diambil langkah-langkah untuk menghindari kemungkinan hujan asam yang efeknya merugikan manusia. Secara umum, meski dari hasil penelitian belum dapat disimpulkan ada tren naik atau menurun dalam hal gas polutan yang dilepas ke udara, mengingat dari hasil pemantauan beberapa parameter menunjukkan angka fluktuatif, sesungguhnya pula harus diakui kualitas udara menurun. Bahkan beberapa pakar berpendapat, kualitas udara Yogyakarta sudah memasuki nilai ambang batas dan perlu diwaspadai. Karena itu perlu segera diambil langkah-langkah guna menghindari kemungkinan terjadi hujan asam. Sekarang di jalan raya makin banyak para pengendara sepeda motor yang mengenakan masker meskipun seadanya. Sebab, mereka menyadari bahwa tingkat pencemaran udara makin tinggi (Sri Sultan HB X, 2002).

 Kejadian ini sangat ironis karena kota yogyakarta pernah diakui sebagai kota sepeda.Tetapi pada zaman sekarang akibat tuntutan globalisasi membuat masyarakat memilih berpindah kendaraan bermotor sebagai moda trnsportasi.Hal ini sangat disadari oleh pemuda kreatif yogyakarta.Mereka akhirnya mebentuk sebuah komunitas yang dinamakan JLFR(Jogja Last Friday Ride) untuk menumbuhkan kembali jiwa budaya bersepeda di kota yogyakarta.JLFR adalah kegiatan bersepeda setiap jumat akhir bulan dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya para goweser dari komunitas sepeda apapun di yogyakarta. Kegiatan ini terilhami oleh peristiwa Critical Mass yang ternyata sudah menjadi tradisi gerakan bersepeda di lebih dari 300 kota di dunia. Satu pesan yang dibawa dari kegiatan jogja last friday ride adalah mengkampayekan sepeda sebagai sebuah alat transportasi untuk bekerja, ke kampus, ke pasar dan kemana saja. Badan menjadi sehat, bumi terawat dan temanpun menjadi banyak.
Copyright © 2012 PAWARTOS HIMAYO All Right Reserved